Kajian Mengenai Proses Pembelajaran Siswa

Ketika kita mendengar kata belajar pasti langsung berpikir tentang sekolah dan pelajaran.namun belajar dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun kita berada.Belajar adalah proses aktivitas atau pengalaman yang memberikan perubahan ke arah yang lebih maju dan menghasilkan perubahan pengetahuan,perilaku dan pribadi yang bersifat permanen. Suatu perbuatan dikatakan sebagai proses belajar apabila memenuhi kriteria sebagai berikut, Pertama, perubahan yang terjadi harus bertujuan disengaja atau sadar.Kedua, perubahan itu bersifat positif ke arah yang lebih baik. Ketiga, hasil dari pengalaman yaitu interaksi antara individu dengan orang lain atau lingkungan. Sedangkan perubahan yang diakibatkan karena kematangan itu tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Keempat, perubahan itu bersifat efektif.

Prinsip Belajar

Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar.Beberapa prinsip belajar diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Prinsip Kesiapan (Readiness)

Yang dimaksud dengan kesiapan atau readiness ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar.kesiapan murid sangat berpengaruh terhadap proses belajar.Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.

2. Prinsip Motivasi (Motivation)

Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Rasa ingin tahu ini didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak.

3. Prinsip Persepsi

Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup yang mempengaruhi perilaku individu. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain.jika seorang guru peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu,maka guru tersebut dapat memahami siswanya dengan baik.

4. Prinsip Tujuan

Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang. Tujuan harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh para pelajar pada saat proses belajar terjadi.

5. Prinsip perbedaan individual.

Proses pengajaran seyogyanya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya. Seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut.

6. Prinsip Transfer dan Retensi.

Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru.

7. Prinsip Belajar Kognitif.

Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif.

8. Prinsip Belajar Afektif

Proses belajar afektif seseorang menentukn bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru.Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap.

9. Prinsip Evaluasi

Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan.Evaluasi mencakup kesadaran individu mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai pengalamannya.

 

Belajar sebagai proses Terpadu

Belajar juga dikatakan sebagai proses terpadu, ini berarti proses yang menyangkut semua aspek yaitu meliputi aspek fisik, sosial, emosional, intelektual dan moral dapat terlibat secara aktif ketika kegiatan belajar itu sedang berlangsung.

Pertama, belajar membantu individu untuk mencapai pertubuhan dan perkembangan secara utuh, untuk memenuhi semua kebutuhan dirinya. Kedua, belajar sebagai aktivitas untuk memperoleh pengalaman yang ada di lingkungannya sehingga individu dapat mengapresiasikan pengalaman itu sebagai subyek belajar. Ketiga, belajar yang menuntut adanya keterlibatan siswa secara aktif dan intensif.Keempat,mendorong siswa untuk belajar terus menerus, artinya siswa tidak hanya mendapatkan informasi tetapi juga memproses informasi tersebut sehingga belajar itu tidak pernah berakhir.

Proses Psikologis Belajar Anak

Proses psikiologis belajar anak adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dipahami. Ada beberapa teori yang berusaha memahami proses psikologis balajar anakdengan memandang keberadaan anak

a) Teori Belajar Behavioral

  1. Classical Conditioning

Classical Conditioning merupakan kemampuan menghasilkan respon terhadap stimulus baru berdasarkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya secara berulang – ulang.

  1. Operant Conditioning

Tidak semua proses belajar manusia itu bersifat otomatis dan bertujuan. Tindakan yang dikendalikan oleh tujuan disebut operants. Proses belajar yang terlibat dalam mengunah perilaku operant disebut opernt conditioning. Perbedaan classical conditioning dan operant conditioning adalah operant conditioning selalu lebih baik daripada classical conditioning dalam menjelaskan respon otomatis, sebaliknya classical conditioning lebih baik dalam menjelakan respon yang tak otomatis. Stimulus yang menguasai perilaku dalam classical conditioning mendahului perilaku, sementara stimuls yang menguasai perilaku dalam operant conditioning mengikuti perilaku.

  1. Pembentukan Kebiasaan ( Habituation )

Pembentukan kebiasaan (habituation) adalah presentasi suatu stimulus yang teejadi berulang-ulang. yang dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap stimulus. Dishabituation adalah suatu minat bayi yang terbaru terhadap suatu stimulus.

  1. Peniruan ( Imitation )

Peniruan terjadi ketika seorang anak belajar peilaku baru dengan melihat orang lain bertindak. Misalnya, anak memperhatikan seorang selebritis berperilaku tertentu maka ia meniru perilaku selebritis tersebut. Namun tidak setiap individu meniru model tersebut.

b) Teori Kognitif

  1. Perbedaan Pandangan Kognitif dan Behavioral

Pandangan kognitif meyakini bahwa pengetahuan itu dipelajari dan perubahan dalam pengeahuan atau hailnya menyebabkan adanya perubahan perilaku. Sedangkan menurut pandangan behavioristik perilaku itu sendiri yang dipelajari.

  1. Pengetahuan dan Pandangan Kognitif

Pengetahuan adalah hasil belajar,dengan belajar kita akan megetahui sesuatu yang baru. Pendekatan kognitif menyarankan bahwa salah satu elemen yang sangat penting alam proses belajar adalah apa yang individu bawa ke dalam situasi belajar.

  1. Teori Perkembangan Kognitif

Perkembangan ini memandang bahwa pikiran itu lebih penting. Sebagai mediator hubungan lingkungan dan perilaku, maka dari itu pikiran sebagai fous sentral pada perkembangan pada perilaku anak. Beberapa hal penting yang perlu dipahami yaitu proses, adaptasi ( assimilasi dan akomodasi), organisasi dan keseimbanganAnak-anak secar kognitif harus mengorganisir pengalamanya dengan mengelompokan perilaku terpisah ke dalam suatu aturan yang lebih tinggi. Anak –anak mencapai keseimbangan pikiran ketika mereka mengalami konflik dalam mencoba memahami sesuatu akhirnya dapat memecahkan konflik tersebut.

  1. Pemrosesan Informasi

Pendekatan pemrosesan informasi adalah suatu kerangka dasar untuk memahami cara anak untuk belajar dan berpikir.Dua proses dasar yang diperlukan bagi anak untuk memproses informasi tentang dunianya yaitu perhatian(konsentrasi)dan ingatan.

Tiga hal penting dalam proses kognitif tingkat tinggi yaitu pemecahan masalah, pemantauan kognitif dan berpikir kritis.

Implikasi Proses Pembelajaran Anak terhadap Pengembangan Kegiatan Belajar mengajar

Proses belajar harus diorientasikan pada semua aspek individu, kurikulum yang dapat mengembangkan semua bidang pengembangan seperti fisik, emosi, sosial, dan kognitif dan yang lebih penting adalah adanya kejelasan tentang kesesuaian antara isi kurikulum usia dan tingkat kemampuan anak.

Guru diharapkan selalu siap memposisikan dirinya sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai satu – satunya yang berkuasa di kelas. Dengan peran tersebut siswa tetap asik dalam kegiatan belajar sehingga mudah dalam memecahkan persoalan dan belajar untuk tidak bergantung pada orang lain. Kesempatan seluas luasnya hendaknya diberikan kepada anak untuk terlibat dalam kegiatan yang melibatkan seluruh aspek bidang studi pengembangan seperti mental, fisik, social dan moral siswa sehingga guru hendaknya menyiapkan materi yang kaya akan variasi kegiatan

Guru hendaknya terus menerus melakukan pemantauan secara langsung di kelas maupun di luar kelas untuk menjaga efektivitas pembelajaran. Hal itu dapat memantau siswa sehingga bermanfaat untuk pengembangan program, sehingga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran.

 

Tentang stkipbanten

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banten
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s